Menteri luar negeri Rusia dan Turki menyatakan akan mengkoordinasikan kegiatan militer di Suriah setelah AS memutuskan untuk menarik pasukannya. “Kami memberikan perhatian khusus pada keadaan yang muncul sehubungan dengan penarikan pasukan militer AS,” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov setelah pembicaraan dengan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu di Moskow pada hari Sabtu. Berita politik terkini dari Suriah menunjukkan bahwa selain bekerja sama dalam operasi militer, kedua negara juga akan membantu para pengungsi untuk pulang ke Suriah. Selain Menlu kedua negara, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar, kepala intelijen Hakan Fidan dan pembantu presiden Ibrahim Kalin juga mengadakan pembicaraan pada hari Sabtu dengan Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoygu, Kepala Staf Umum Valery Gerasimov, Utusan Umum Presiden untuk Suriah Alexander Lavrentiev, dan pembantu presiden Yuri Ushakov.

Sumber matamatapolitik.com mengatakan Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengeluarkan pernyataan bahwa AS menarik semua 2.000 tentara dari Suriah. Hal itu karena Washington telah mencapai tujuannya dengan “kekalahan” Negara Islam Irak dan Levant (ISIL, juga dikenal sebagai ISIS). Kelompok ISIL, yang tadinya menguasai sebagian besar wilayah di Suriah dan Irak, telah kehilangan hampir semua wilayahnya, meskipun ribuan anggotanya diperkirakan tetap berada di Suriah yang dilanda perang. Pada Jumat, 28 Desember lalu Rusia mengatakan akan menjadi tuan rumah KTT tiga arah dengan Turki dan Iran mengenai konflik Suriah awal tahun depan. Turki merencanakan operasi militer terhadap Manbij untuk memindahkan pasukan pimpinan Kurdi, yang oleh mereka sebut “teroris”. Turki dan negara-negara sekutunya telah mengumpulkan pasukan di sekitar kota dalam beberapa hari terakhir.

Rusia, Iran, dan Turki telah bekerja sama untuk mewujudkan perdamaian di Suriah. Kerja sama ini disebut dengan Proses Astana, sesuai nama kota dimana kesepakatan itu dibuat. Setiap negara memainkan peran penting dalam konflik yang dimulai pada Maret 2011 itu. Rusia dan Iran membantu pemerintah Suriah, memastikan kelangsungan hidup pemerintahan negara itu. Semangat Turki mendukung kelompok pejuang melawan Bashar Al Assad di Suriah Utara, juga mencegah pasukan Kurdi Suriah membangun dan memperluas wilayah kekuasaan mereka di sepanjang perbatasannya. Berbagai zona de-eskalasi disepakati di antara tiga kekuatan penjamin di Suriah tersebut sebagai hasil dari beberapa kali putaran pembicaraan.

Berita politik terkini lainnya tentang Suriah bisa Anda dapatkan di situs berita terpercaya matamatapolitik.com.