Memilih Tabungan Dan Asuransi Pendidikan Anak – Di era modern ini, perencanaan finansial telah banyak diterapkan di keluarga-keluarga semua kalangan dan kelas sosial. Banyaknya produk-produk finansial yang ditawarkan hadir sebagai sebuah masalah baru bagi keluarga muda sebab keputusan yang diambil akan berdampak panjang dan fatal pada masa depan buah hati. Kini, dua produk finansial yang paling banyak dicari dan diminati adalah tabungan pendidkan anak dan asuransi pendidikan anak.

Memilih Tabungan Dan Asuransi Pendidikan Anak

Tabungan Pendidikan Anak menjamin uang anda tidak akan hilang sekalipun bank bangkrut atau collapse sebab pemerintah bertanggungjawab untuk mengganti jumlah uang tabungan para nasabah di suatu bank. Sementara asuransi pendidikan anak adalah kesepakatan antara perusahaan asuransi dan nasabah untuk memutarkan setoran nasabah dalam, kegiatan investasi yang nantinya dapat menguntungkan maupun merugikan dan tak ada jaminan uang akan diganti secara utuh jika investasi gagal atau perusahaan bangkrut.Meski bunga deposito yang ditawarkan tidak berjumlah fantastis dan menggiurkan, namun kelipatan uang dan perhitungan bunga dalam tabungan yang dinaungi bank ini bersifat pasti. Sementara dalam produk milik perusahaan asuransi, bunga ini bersifat fluktuatif dan sewaktu-waktu dapat berubah menjadi lebih besar maupun kecil sesuai nilai investasi.

Baca juga : MEMBAHAS MENGENAI MANAJEMEN KEUANGAN KELUARGA

Meski terlihat serupa, sebenarnya kedua produk finansial ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan dan besar.Orangtua harus cermat dalam melihat perbedaan ini agar tak salah pilih. Keduanya tentu memiliki manfaat bagi masa depan si buah hati. Namun, sebagian besar masyarakat lebih memilih untuk mengambil program Tabungan Pendidikan Anak yang biasa disediakan oleh Bank dengan alasan jaminan keamanan uang yang mereka simpan.Namun tak sedikit pula orang yang memilih Asuransi Pendidikan Anak dengan pertimbangan kemungkinan uang untuk berlipat ganda melalui investasi minim resiko.Saat memilih, para orangtua harus dapat mengukur kemampuan finansial mereka agar tak mengambil keputusan ceroboh yang didasari iming-iming keuntungan semata. Pertimbangan seharusnya diambil berdasarkan kemungkinan terburuk jika investasi gagal atau orangtua meninggal sebelum program dapat diselesaikan, agar masa depan anak tak menjadi bahan taruhan peruntungan.